
KENDARI — Langkah berani kembali dicatatkan oleh talenta muda asal Sulawesi Tenggara di panggung internasional. Alif Alfajri, mahasiswa Program Studi Manajemen STIE Enam Enam Kendari, secara resmi memulai babak baru perjalanan akademis dan profesionalnya melalui program magang internasional selama enam bulan di Taiwan.
Keberhasilan Alif menembus program prestisius ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa daerah memiliki daya saing tinggi untuk berkiprah di lingkungan kerja global. Pengalaman lintas negara ini dirancang untuk memberi paparan langsung terhadap dinamika industri modern modern di luar negeri.
Di kampus STIE Enam Enam Kendari, Alif tercatat sebagai mahasiswa aktif Program Studi Manajemen dengan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) 246601272. Rekam jejak akademisnya yang solid kini makin lengkap dengan pengalaman kerja internasional yang jarang didapatkan oleh sembarang mahasiswa.
Taiwan dipilih sebagai destinasi magang karena dikenal memiliki ekosistem industri yang disiplin, profesional, dan berteknologi tinggi. Kehadiran Alif di sana menjadi bagian dari upaya mengasah kompetensi manajemen secara riil di tengah atmosfer persaingan global.
Perusahaan tempat Alif menimba ilmu adalah Jing Yuan Tian Co., Ltd., sebuah entitas bisnis yang berpusat di kawasan strategis kota. Perusahaan ini beralamat tepat di No. 1, Lane 2, Yongkang Street, Da’an District, Taipei City 106007, Taiwan.
Bagi Alif, berkesempatan menyerap ilmu di jantung Kota Taipei merupakan momen krusial untuk mentransformasi teori perkuliahan menjadi praktik lapangan. Lingkungan kerja profesional di Da’an District menuntut tingkat ketelitian dan etos kerja yang ekstra tinggi.
Program magang luar negeri ini dinilai sebagai batu loncatan yang sangat berharga bagi pengembangan kapasitas diri Alif. Selain mempertajam keahlian teknis (hard skills), program ini menjadi kawah candradimuka untuk menggembleng mental serta keahlian antarpribadi (soft skills).
Mengarungi pengalaman di negeri orang memberi warna tersendiri bagi cara pandang Alif terhadap dunia kerja. Ia tidak hanya belajar bagaimana sebuah perusahaan dikelola secara efektif, tetapi juga mempelajari kultur adaptasi yang fleksibel.
”Program magang ini memberikan kesempatan kepada saya untuk mendapatkan pengalaman bekerja di lingkungan internasional, mempelajari budaya kerja di Taiwan, serta meningkatkan kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda,” ungkap Alif dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026).
Perjalanan panjang Alif menuju Taipei dimulai sejak pertengahan bulan ini. Ia secara resmi dilepas dari Kendari pada 14 Juli 2026, menempuh penerbangan berantai yang membelah beberapa kota besar sebelum akhirnya mendarat di Taiwan.
Rute penerbangan udara yang ditempuh Alif bermula dari Bandara Haluoleo Kendari menuju Makassar, lalu dilanjutkan ke Jakarta sebagai titik kumpul transit internasional, hingga akhirnya terbang menuju penerbangan akhir ke Taipei. Perjalanan transit multi-kota tersebut menjadi awal dari ujian ketahanan dan kesiapan mentalnya.
Setibanya di Formosa — julukan pulau Taiwan —, Alif langsung dihadapkan pada proses transisi kebiasaan harian. Ia harus dengan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal baru, tata cara bermasyarakat lokal, hingga iklim kerja di Jing Yuan Tian Co., Ltd.
Sesuai dengan skema akademik yang dirancang, program magang ini akan berlangsung selama enam bulan atau setara dengan bobot satu semester perkuliahan. Durasi waktu tersebut dinilai cukup ideal untuk memahami operasional perusahaan secara komprehensif.
Menariknya, masa pelaksanaan magang ini memiliki fleksibilitas durasi yang dapat diperpanjang selama enam bulan berikutnya. Artinya, jika performa dan kebutuhan akademik mendukung, Alif berkesempatan menjalani program ini hingga total waktu satu tahun penuh atau dua semester.
Aktivitas Alif selama bermukim di Taiwan ternyata tidak hanya melulu berkutat di balik meja kerja perusahaan. Di sela-sela rutinitas profesionalnya, ia aktif mengeksplorasi sisi sosial dan budaya masyarakat setempat untuk memperluas cakrawala berpikirnya.
Salah satu ruang publik ternama yang sempat dikunjunginya adalah New Taipei Metropolitan Park. Berinteraksi di kawasan hijau terbuka tersebut menjadi sarana Alif untuk memahami gaya hidup, keteraturan, dan interaksi sosial warga lokal Taipei secara lebih dekat.
Pengalaman lintas budaya (cross-cultural experience) seperti ini dipandang sangat vital dalam membentuk karakter pemimpin masa depan. Pemahaman budaya yang luas akan memudahkan mahasiswa dalam membangun jaringan profesional (networking) yang solid di tingkat global.
”Melalui program ini, saya berharap dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang nantinya bisa diterapkan setelah kembali ke Indonesia. Program ini juga dapat membuka peluang karier internasional pada masa mendatang,” terang Alif penuh optimisme.
Capaian yang diraih Alif turut membawa kebanggaan tersendiri bagi sivitas akademika STIE Enam Enam Kendari. Partisipasi aktif mahasiswanya di ranah internasional membuktikan bahwa institusi pendidikan tinggi di Sulawesi Tenggara mampu mencetak sumber daya manusia yang responsif terhadap arus globalisasi.
Pihak manajemen STIE Enam Enam Kendari menegaskan komitmennya untuk terus mendorong dan memfasilitasi mahasiswa dalam mengikuti berbagai agenda akademik maupun nonakademik, baik skala nasional maupun internasional. Pembekalan magang luar negeri ini diharapkan memperkuat penguasaan bidang manajemen, pemecahan masalah (problem solving), hingga kesiapan mental bertarung di industri kerja.
Menutup pengalamannya, Alif menyitir pesan motivasi bagi rekan-rekan sesama mahasiswa di tanah air agar tidak ragu keluar dari zona nyaman dan mengejar mimpi hingga ke luar negeri.
”Mahasiswa tidak perlu takut mencoba kesempatan baru. Persiapkan kemampuan, mental, dan komunikasi dengan baik karena pengalaman internasional dapat memberikan pembelajaran yang sangat luas,” pungkas Alif dengan mantap.