Kendari-SarabaNews.com

Menurut Data BPS inflasi tertinggi terjadi dikendari 0,62,% penyumbang komoditas adalah kenaikan harga ikan kembung serta ikan selar dan ikan teri, kata Setianto dalam konferensi pers virtual dari Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS,1/92021.
Persoalan tersebut ditanggapi langsung oleh masyarakat khususnya pengkonsumsi ikan bahwa kenyataannya dipasar kota kendari hampir semua terjadi kenaikan harga ikan di semua jenis ikan dengan kisaran 45.000 – 60.000/Kg.Hal ini sedikit menyulitkan ekonomi khususnya ibu rumah tangga dan rumah makan.
Dimana dengan kenaikan harga ikan dikota Kendari pendapatan riil masyarakat akan tergerus berkurang akan terus turun. Katakanlah pos anggaran untuk makan 1 juta/bulan tidak akan cukup karena kenaikan ikan tersebut sehingga konsumen/ibu rumah tangga akan mengganti sementara menu makanannya seperti tempe, daging ayam, telur, dll untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi ditengah pandemi covid 19 ini.
Hal ini juga dirasakan pedagang rumah makan atau UMKM yang bergerak di bidang produk olahan ikan mengalami kebingungan dalam menentukan harga produk makanannya disisi lain harga ikan naik disisi lain biaya produksi naik yang secara otomatis pedagang akan menaikkan harga makanan dan produk olahan ikannya, ini terjadi beberapa rumah makan yang ada. Dan ada juga pedagang tidak menaikkan harga produknya untuk menjaga loyalitas konsumennya/pelanggan tetapnya meskipun ditengah gejolak kenaikan harga ikan tersebut guna bertahan ditengah pandemi PPKM yang diperpanjang dan musim hujan ini.
Menurut Akademisi Dr. Weka Gusmiarty Abdullah, SP, MP, CRA mengatakan secara teori Inflasi adalah kenaikan harga yang terjadi pada SEBAGIAN BESAR barang/jasa yang beredar di suatu wilayah perekonomian, artinya bukan hanya 1(satu) komoditas naik kemudian dikatakan inflasi. Dengan kata lain adanya komuditas yang lain yang juga mempengaruhi kenaikan inflasi tersebut termasuk komoditas substitusinya, meskipun sumbangsih terbesar kenaikan ikan menyumbang persentase kenaikan inflasi dikota Kendari.

Lebih lanjut Weka Gusmiarty mengatakan besaran inflasi 0,62% itu masih wajar, alamiah. Besaran inflasi 10-30% itu kategori inflasi rendah. Besaran inflasi masih lebih rendah dibanding persentase pertumbuhan ekonomi Indonesia khususnya Sulawesi tenggara di triwulan 1 sebesar 5,97%. Jenis Ikan sendiri adalah komoditi yang paling banyak substitusinya(jenis ikan lain) dan penggantinya dari segi konsumsi sehingga tidak mengancam ketahanan pangan. Dengan kecilnya angka inflasi tersebut berarti harga komoditas lain masih cenderung stabil. data inflasi sepertinya tidak menjadi penyebab naiknya harga komoditi lain. penyebab naiknya harga terutama karena permintaan dan penawaran yakni penawaran berkurang sedang permintaan tetap atau penawaran tetap sedang permintaan meningkat. harga naik bisa juga disebabkan jika harga barang komplementer (pelengkapnya) naik.
Adapun hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah dalam mengatasi kenaikan inflasi harga ikan yakni ;
- Mengontrol kestabilan harga-harga input nelayan (jaring ikan, BBM),
- Kebijakan subsidi biaya pemeliharaan/service perahu/mesinnya karena jangan sampai mesinnya sudah lewat umur ekonomis jadi lebih boros pengunaan BBM,
- memperkuat kontrol penyaluran subsidi BBMnya,
- Memperkuat keamanan laut agar memperkecil/menghindari terjadinya ‘kebocoran ikan’ pengambilan ikan oleh kapal nelayan di luar Kendari/Sultra,
- Pemerintah juga bisa membantu pemberian informasi lokasi-lokasi potensial untuk penangkapan ikan sehingga nelayan bisa mendapat tangkapan ikan lebih banyak,
- Kebijakan dan kampanye kebersihan laut agar habitat ikan terjaga dengan baik dan dapat berkembang biak dengan maksimal
- Menyediakan buffer stock ikan, semacam gudang ikan. Jadi saat stok ikan nelayan melimpah, pemerintah membelinya, menggudangkan (tentunya dgn teknologi penyimpanan yg baik agar ikan tetap terjaga kesegarannya hingga saat/ikan langka lagi). Nanti saat-saat seperti itulah ikan tersebut bisa dijual murah lagi ke nelayan agar bisa dijual kembali dengan ongkos produksi yg stabil, imbuh Weka Gusmiarty Abdullah yang juga dosen Agribisnis Fakultas Pertanian UHO. Red