Deprecated: Fungsi WP_Dependencies->add_data() ditulis dengan argumen yang usang sejak versi 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/u1551005/public_html/sarabanews.com/wp-includes/functions.php on line 6131
Navigasi Etika di Balik Lensa AI: Komdigi dan Media Indonesia Perkuat Benteng Jurnalistik di Kendari - Saatnya Rakyat Bicara

Navigasi Etika di Balik Lensa AI: Komdigi dan Media Indonesia Perkuat Benteng Jurnalistik di Kendari

KENDARI – Gelombang Kecerdasan Artifisial (AI) bukan lagi sekadar prediksi masa depan, melainkan realitas yang sedang merombak wajah industri media saat ini. Menanggapi fenomena tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Media Indonesia menggelar forum diskusi strategis bertajuk “Insight Talks: Literasi Media: Cerdas di Era Kecerdasan Artifisial” di Kota Kendari, Rabu pagi (13/5).

​Forum ini menjadi ruang krusial bagi para praktisi media dan pemangku kepentingan untuk membedah urgensi kesiapan industri dalam menyambut teknologi pintar tanpa kehilangan jati diri jurnalistik.

​Menuju Payung Hukum: Perpres AI Tengah Dimatangkan

​Pemerintah menyadari bahwa akselerasi teknologi tanpa regulasi dapat menjadi pisau bermata dua. Dalam kesempatan tersebut, Dewi (perwakilan Komdigi) mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mematangkan instrumen regulasi berupa Peraturan Presiden (Perpres) tentang Kecerdasan Artifisial.

​”Langkah strategis ini diambil untuk menciptakan kerangka tata kelola nasional yang tidak hanya mendorong inovasi, tetapi juga menjamin pengembangan teknologi yang etis, transparan, dan akuntabel,” tegas Dewi.

​Regulasi ini diharapkan menjadi kompas bagi industri kreatif dan media agar tetap terlindungi di tengah gempuran otomatisasi, sekaligus memastikan Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tapi juga pemain yang beretika.

​AI Sebagai Asisten, Bukan Pengganti Nurani

​Salah satu poin paling tajam dalam diskusi ini adalah penekanan bahwa adopsi AI tidak boleh mengabaikan nilai-nilai dasar jurnalistik. Komdigi menggarisbawahi dua tantangan besar yang dihadapi redaksi masa kini:

​Adopsi Bertanggung Jawab: Memastikan AI digunakan untuk memperkuat riset dan produktivitas, bukan menggantikan peran jurnalis dalam melakukan verifikasi lapangan.

​Prinsip Transparansi: Memberikan hak kepada publik untuk mengetahui asal-usul konten yang mereka konsumsi.

​Hak Publik Atas Kejujuran Konten

​Di era deepfake dan narasi buatan mesin, transparansi menjadi mata uang baru dalam kepercayaan publik. Menurut Dewi, pemanfaatan AI harus diposisikan sebagai alat bantu (tool) untuk memperkaya kedalaman berita, namun etika profesi tetap menjadi harga mati.

​”Publik memiliki hak fundamental untuk mengetahui apakah sebuah konten diproduksi secara organik oleh manusia atau melalui bantuan AI,” tambahnya. Hal ini menjadi pengingat bagi industri media bahwa kejujuran adalah fondasi utama agar tetap relevan dan dipercaya di tengah banjir informasi digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *