Mahasiswa Poliwangi Raih Juara 3, Ciptakan Alat Pendeteksi Kekurangan Oksigen

Banyuwangi-SarabaNews.com

Foto : Istemewah

 

Tiga mahasiswa Politeknik Negeri Banyuwangi, diantaranya Refita Dinda Cahyani Putri, Eka Listiyaningsih Ayu Wardani, Muhammad Wildan Alviandi Munir yang tergabung dalam Tim Oksigen, berhasil meraih juara 3 kategori Internet of Things (IoT) pada PNB IT Competition 2021 yang digelar oleh Politeknik Negeri Bali (PNB).
Ketiga mahasiswa dari program studi Teknik Informatika ini, dalam kompetisi ini menciptakan alat berbasis IoT, dimana alat tersebut untuk memonitoring pasien Covid-19 yang mengalami Happy Hypoxia, yaitu indikasi menurunnya kadar oksigen secara drastis dalam tubuh pasien, yang bisa berakibat pada kematian.
“Mahasiswa Poliwangi berhasil menjadi juara 3 dalam kompetisi berbasis IoT dengan menciptakan alat pendeteksi dini dalam monitoring pasien covid-19, yang mengalami Happy Hypoxia yang digelar oleh Politeknik Negeri Banyuwangi, lomba ini sendiri diikuti oleh seluruh mahasiswa Politeknik se Indonesia,” ujar Humas Poliwangi Wahyu Naris Wari ST.
Refita yang juga Ketua Tim Oksigen Poliwangi, kepada wartawan mengatakan, bahwa banyaknya pasien terkonfirmasi covid-19, serta meningkatnya jumlah kematian, yang menginspirasi timnya untuk membuat alat pendeteksi kadar oksigen.
“Menurut data dari Satuan Satgas Covid-19, Indonesia jumlah pasien terkonfirmasi covid-19, meningkat diikuti dengan meningkatnya jumlah kematian akibat covid-19, hal ini yang lantas mendorong kami untuk membuat alat pendeteksi kadar oksigen, dan Alhamdulilah berhasil menjadi juara 3,” ungkap Refita.
Refita menjelaskan, dengan adanya varian baru covid-19, banyak pasien yang mengalami gejala seperti batuk, demam, flu dan gejala mirip pneumonia. Dan gejala lain yang sering dialami pasien adalah happy hypoxia. Happy hypoxia sendiri sulit dikenali karena tidak menimbulkan gejala fisik selain menurunnya kadar saturasi oksigen pada pasien.
Oleh karena itu dibutuhkan alat ukur saturasi oksigen. Dipasaran alat pengukur saturasi oksigen sudah ada, namun kebanyakan pasien mengalami kesulitan dalam pembacaan alat serta data hasil monitoring tidak tersimpan sehingga pasien tidak dapat melihat riwayat monitoringnya.
Oleh karena itu dibuatlah alat ukur oksigen dan detak jantung berbasis internet of things. Alat ini sudah terintegrasi dengan aplikasi android dan website sehingga pasien pengguna alat dapat dengan mudah melakukan monitoring oksigen dalam tubuh. “Dengan dibuatnya inovasi alat tersebut diharapkan dapat mempermudah pasien dan petugas medis dalam melakukan monitoring dan pemeriksaan terhadap pasien isolasi mandiri covid19,” ujarnya.
Untuk bisa menjadi juara 3, Refita menyatakan, bahwa pihaknya jauh-jauh hari sudah melakukan persiapan yang matang, mulai dari babak penyisihan hingga mencapai final. “Tentu ada kebanggaan bisa mempersembahkan karya yang bermanfaat, mudah-mudahan capaian kami ini bisa memotivasi generasi penerusnya,” pungkas Refita.
(Ags)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *