
Ketum PAN menambahkan, KIB lahir karena persamaan platform perjuangan untuk membangun sistem politik modern. Yaitu menjadikan partai politik sebagai pilar demokrasi yang ditopang oleh kekuatan rakyat sebagai aktor yang berfungsi menyejahterakan, memakmurkan rakyat, dan membahagiakan rakyat, serta melindungi bangsa dan negara.
Menteri Perdagangan ini pun mengaku banyak pihak yang menilai KIB hanya akan seumur jagung atau layu sebelum berkembang. Bahkan, kata Zulhas, KIB diprediksi akan mati suri berantakan dan pecah berkeping-keping dimakan konflik. Namun, menurut Zulhas, kegiatan silahturahim nasional yang digelar KIB di Makasssar menjawab keraguan itu semua.
Zulhas menekankan, KIB masih tegak berdiri membawa panji-panji untuk dikibarkan ke seluruh Indonesia. “Hari ini kita di Makassar adalah jawaban dari prediksi dan penilaian yang tidak tepat. Kita masih tegak berdiri disini membawa panji-panji KIB untuk dikibarkan ke seluruh Indonesia. Kita masih kokoh berdiri dari gempuran gelombang politik. Kita masih berlayar mengarungi samudera harapan untuk menuju ketepatan pantai dengan senyum kemenangan,” tegas Zulhas.
Dalam kesempatan itu, Zulhas kembali menegaskan bahwa KIB memiliki program akselerasi transformasi ekonomi nasional (PATEN) yang dirancang untuk membangun peradaban Indonesia dalam 10 tahun kedepan. “Syarat utama agar program PATEN dapat dilaksanakan KIB harus memenangkan Pilpres 2024. Tanpa kemenangan maka program PATEN hanya sebuah konsep dan gagasan di atas secara kertas,” beber Zulhas.
Mantan menteri kehutanan ini menuturkan, kemenangan akan didapat diwujudkan jika bekerja secara serius, keras, ikhlas, dan cerdas dalam memperjuangkan pasangan capres-cawapres yang diusung KIB. “Siapakah jagoan yang kita perjuangkan? Itu akan ditulis di buku KIB, di BAB berikutnya. Karena setelah penentuan jagoan kita akan ada BAB kampanye sampai BAB merealisasikan program PATEN untuk 10 tahun ke depan,” ujar Zulhas.