Saatnya rakyat Bicara

Dalam berita sebelumnya di berbagai media massa Susi Pudjiastuti, ikut mengomentari wacana kenaikan harga BBM dengan mengasumsikan “daripada menaikkan harga BBM, mending bubarkan lembaga yang tidak penting, imbuhnya.

Hal ini juga turut memantik komen netizen Dari akun FB Gavin Ar Rasheed II, ikut Mengomentari yakni Mungkin banyak yg tidak percaya, dengan nilai subsidi yang diberikan pemerintah seharusnya harga Pertalite itu Rp 0.
Dan mungkin Presiden Joko Widodo tidak tahu bahwa meskipun subsidi BBM dihapus harga Pertalite bisa lebih murah dari sekarang. Sumber masalahnya bukan di rakyat tapi di Pertamina dan Pemerintah sendiri.
Ini hitungan sederhana saja sebelum kita ulas lebih detil rinciannya …
Rata2 harga minyak dunia antara $ 73 $ 130, kita ambil tengahnya $100usd/ perbarel, 100:159 = artinya $0,6usd/ltr = dirupiahkan 0,6x Rp 14,500 = Rp 8700. Komsumsi BBM/thn Indonesia 23jt kilo liter/thn x Rp 8700 = cuma Rp 200 triliun.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia Sudahkah Pemerintah melakukan audit terhadap “harga keekonomian Pertamina”? Berapa subsidi yg diberikan ke rakyat dan berapa untuk biayai inefisiensi Pertamina? Masalahnya di keserakahan orang-orang Pertamina kok rakyat yang disalah-salahkan?
Jika menghapus subsidi dengan alasan alokasi tersebut tidak tepat sasaran, tapi tetap dengan pertahankan monopoli Pertamina akan dibayar dengan harga sosial yang mahal.
Subsidi hanya boleh dihapus jika aturan harga batas bawah BBM dihapus dan persaingan pasar dibuka lebar.