Deprecated: Fungsi WP_Dependencies->add_data() ditulis dengan argumen yang usang sejak versi 6.9.0! Komentar kondisional IE diabaikan oleh semua browser yang didukung. in /home/u1551005/public_html/sarabanews.com/wp-includes/functions.php on line 6170
Dobrak Sekat Pembiayaan, OJK dan ILO Digitalisasi 10.000 Peternak Sapi Perah di Jatim - Saatnya Rakyat Bicara

Dobrak Sekat Pembiayaan, OJK dan ILO Digitalisasi 10.000 Peternak Sapi Perah di Jatim

MALANG – Selama bertahun-tahun, mayoritas peternak sapi perah rakyat di Indonesia terjebak dalam lingkaran klasik: sulit mendapatkan modal formal dari perbankan karena tidak memiliki rekam jejak keuangan yang rapi (unbankable).

​Merespons tantangan nyata tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama International Labour Organization (ILO) resmi meluncurkan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) berbasis digital di Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (11/06/2026).

​Langkah strategis ini menjadi tonggak baru transformasi digital yang langsung menyasar lebih dari 10.000 peternak lokal di tiga koperasi prioritas Jawa Timur, yaitu KAN Jabung, KPSP Setia Kawan, dan KPUD Tani Wilis.

​Menghapus ‘Asimetri Informasi’ Peternak

​Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) OJK, Adi Budiarso, mengungkapkan bahwa akar masalah sulitnya peternak mengakses bank adalah masalah data.

​”Para peternak kerap menghadapi hambatan akibat asimetri informasi. Mulai dari keterbatasan data yang valid, profil usaha yang abu-abu, kapasitas produksi yang simpang siur, hingga kondisi keuangan yang belum terdokumentasi,” ujar Adi.

​Melalui program bertajuk PROMISE 2 IMPACT—sebuah kolaborasi masif antara OJK, ILO, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan didukung penuh oleh Pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO)—hambatan itu kini dipangkas.

​Sistem ERP ini bekerja sebagai infrastruktur digital yang mencatat data produksi susu, operasional koperasi, dan arus kas peternak secara real-time.

​Hebatnya, sistem ini tidak berdiri sendiri. ERP tersebut langsung diintegrasikan dengan layanan Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA) dan Penyelenggara Agregasi Jasa Keuangan (PAJK). Artinya, meski peternak tidak punya jaminan konvensional, riwayat produksi susu mereka yang objektif di ERP dapat dikonversi menjadi ‘skor kredit’ untuk mengajukan pinjaman ke bank formal.

​Komitmen Global untuk Ekonomi Arus Bawah

​Dukungan internasional terhadap proyek ini bukan tanpa alasan. Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Simrin Singh, menegaskan bahwa digitalisasi adalah kunci menciptakan lapangan kerja yang lebih berkualitas di sektor pertanian dan peternakan.

​Senada dengan Simrin, Duta Besar Swiss untuk Indonesia, H.E. Olivier Zehnder, menyatakan bahwa Swiss percaya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan harus dimulai dari penguatan pelaku usaha lokal.

“Ketika peternak memiliki akses terhadap teknologi dan layanan keuangan, mereka punya kapasitas lebih besar untuk berinvestasi dan menaikkan produktivitas,” kata Olivier.

​Fondasi Baru Ketahanan Pangan Nasional

​Dari sisi pemerintah daerah, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, yang mewakili Gubernur Jatim, mengingatkan bahwa sektor susu perah adalah urat nadi ketahanan pangan sekaligus motor ekonomi perdesaan.

​”Penguatan sektor sapi perah bukan hanya tentang meningkatkan produksi susu, tetapi juga tentang meningkatkan kesejahteraan peternak dan membangun ekonomi pedesaan yang modern serta berdaya saing,” tegas Adhy.

​Sebagai langkah lanjutan agar inovasi ini tidak mandek, OJK langsung menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama seluruh pemangku kepentingan. Harapannya, model digitalisasi ekosistem yang sukses diterapkan di tiga koperasi Malang, Pasuruan, dan Tulungagung ini bisa segera direplikasi ke sektor peternakan dan daerah lain di seluruh Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *