
JAKARTA – Momentum bersejarah menandai perjalanan industri keuangan nasional saat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar Peringatan 49 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia di Jakarta pada Senin, 10 Agustus 2026.
Dalam perayaan empat dekade lebih tersebut, OJK menegaskan komitmen penuh untuk menjadikan penguatan integritas Pasar Modal sebagai prioritas utama dalam memacu transformasi industri yang lebih efisien, transparan, tepercaya, dan inovatif.
Langkah strategis penataan integritas ini dirancang guna memastikan Pasar Modal Indonesia mampu berkontribusi secara optimal dalam membiayai pembangunan nasional serta mengawal transformasi menuju perekonomian yang tangguh, berketahanan, dan berkelanjutan.
Mengusung tema utama “Akselerasi Transformasi untuk Berdaulat, Mandiri, dan Maju Bersama”, perhelatan akbar ini menjadi panggung sinergi lintas lembaga pemerintah, regulator, dan pelaku industri keuangan nasional.
Sejumlah pejabat tinggi negara turut hadir secara langsung dalam jajaran tamu undangan, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto serta Wakil Menteri Keuangan Juda Agung.
Kehadiran para pimpinan lembaga nasional tersebut disempurnakan oleh partisipasi Jajaran Anggota Dewan Komisioner OJK, jajaran direksi Self-Regulatory Organization (SRO), asosiasi industri, serta para pemangku kepentingan kunci di pasar keuangan.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa penegakan integritas di pasar modal bukan sekadar wacana, melainkan pijakan utama aksi konkret regulator dalam membangun ekosistem yang sehat.
OJK berkomitmen secara berkelanjutan untuk memperkuat likuiditas pasar, menegakkan tata kelola yang bersih, meningkatkan transparansi publik, dan memperketat penegakan hukum sebagai bagian dari rencana aksi integritas menyeluruh.
Peningkatan kapasitas kelembagaan serta modernisasi sistem pengawasan secara bertahap terus diperluas agar regulator mampu mengantisipasi dinamika dan kompleksitas pasar yang kian dinamis.
Kebijakan dan reformasi integritas yang dijalankan OJK bersama para pemangku kepentingan terbukti telah mengubah lanskap Pasar Modal Indonesia secara fundamental dan terukur.
Salah satu indikator keberhasilan transformasi tersebut tecermin dari lonjakan jumlah Single Investor Identification (SID) yang kini resmi menembus angka fantastis 30,27 juta investor.
Capaian jumlah investor tersebut mencatatkan lonjakan pertumbuhan sebesar 48,67 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), atau mengalami penambahan sekitar 9,8 juta investor baru dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Friderica Widyasari Dewi menekankan bahwa pencapaian basis investor ini mengandung bobot substansial yang jauh melampaui statistik angka semata.
Lonjakan investor menggambarkan secara nyata tumbuhnya kepercayaan (trust), keyakinan kuat, dan harapan besar masyarakat luas terhadap masa depan dan stabilitas Pasar Modal Indonesia.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan penekanan bahwa peringatan 49 tahun ini harus dijadikan momentum krusial untuk menjaga kepercayaan investor domestik maupun global secara konsisten.
Menurut Airlangga, Pasar Modal Indonesia senantiasa berperan sebagai proksi utama kondisi ekonomi nasional yang diamati cermat oleh para investor internasional pada momen-momen strategis.
Airlangga mengapresiasi tinggi konsistensi reformasi yang ditempuh OJK bersama SRO, sembari berharap sektor keuangan nasional semakin kredibel, berdaya saing, dan aktif memfasilitasi perdagangan yang inovatif.
Senada dengan Menko Perekonomian, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menggarisbawahi peran strategis pasar modal sebagai katalis pertumbuhan ekonomi yang makin dalam, likuid, dan dapat dipercaya.
Juda Agung menyatakan bahwa pasar keuangan yang kredibel sangat dibutuhkan guna menopang reformasi investasi serta mendukung pencapaian target-target pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Pemerintah memberikan sambutan hangat terhadap rangkaian reformasi yang dijalankan OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI), mulai dari penguatan likuiditas, tata kelola, transparansi, hingga pendalaman pasar.
Salah satu torehan monumental pada peringatan HUT ke-49 ini adalah peluncuran instrumen baru berupa Exchange Traded Fund (ETF) Emas yang kini resmi diperdagangkan di lantai bursa.
Friderica menjelaskan bahwa kehadiran ETF Emas merupakan wujud konkret dari quick win atas delapan rencana aksi OJK dalam mendorong pendalaman pasar secara terintegrasi.
Produk ETF Emas hadir menawarkan kemudahan investasi yang praktis, memiliki likuiditas tinggi, memenuhi prinsip syariah, serta berfungsi efektif sebagai aset pelindung nilai (safe haven).
Inovasi ETF Emas ini sekaligus menjadi sarana dalam memperluas ekosistem Pasar Bullion melalui kolaborasi strategis antarlembaga regulator dan para pelaku industri keuangan.
Dukungan terhadap instrumen baru ini disampaikan oleh Menko Airlangga Hartarto yang berharap ETF Emas tidak hanya menambah ragam pilihan investasi, melainkan juga memperkuat likuiditas pasar secara keseluruhan.
Wamenkeu Juda Agung turut menambahkan bahwa peluncuran ETF Emas diperkirakan memperluas basis investor, melengkapi instrumen pasar, memperkuat likuiditas, dan meningkatkan aspek tata kelola.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menegaskan bahwa ETF Emas akan memperkokoh stabilitas pasar melalui diversifikasi portofolio investor.
Kinerja pasar modal hingga 7 Agustus 2026 mencatatkan realisasi penghimpunan dana sebesar Rp123,21 triliun melalui 135 aksi korporasi, dengan total emiten terdaftar telah melampaui 962 perusahaan.
Sisi demografi investor juga menunjukkan tren sangat positif, di mana 78 persen dari total 30,27 juta investor saat ini didominasi oleh generasi muda berusia di bawah 40 tahun.
Pertumbuhan industri pengelolaan investasi tecermin dari Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana yang menyentuh Rp667 triliun, serta total Asset Under Management (AUM) berada di posisi Rp1.026 triliun per 7 Agustus 2026.
Pada sektor keuangan hijau, transaksi perdagangan karbon sejak 26 September 2023 hingga 7 Agustus 2026 mencapai akumulasi volume 1,98 juta ton CO2 ekuivalen senilai Rp93,89 miliar dari 158 perusahaan berpartisipasi.
Capaian positif ini diperkuat oleh hasil Tinjauan Klasifikasi Pasar MSCI pada Juni 2026 yang mempertahankan posisi Indonesia dalam kategori Pasar Berkembang (Emerging Market).
Menutup komitmen panjang tersebut, OJK bersama SRO terus mengakselerasi implementasi Roadmap PMDK 2022-2027 melalui empat strategi inisiatif utama: pendalaman pasar, penegakan integritas, penguatan kelembagaan PUJK, serta pengembangan Keuangan Keberlanjutan.