
Saatnya Rakyat Bicara News.Com – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Sorue Jaya, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, berlangsung berbeda dari biasanya. Di atas pasir pantai dan embusan angin laut pesisir Konawe, kemerdekaan dimaknai secara riil melalui langkah awal pembebasan masyarakat pesisir dari keterbatasan akses ekonomi dan permodalan.
Suasana khidmat menyelimuti kawasan pesisir Desa Sorue Jaya saat sekitar 1.000 peserta mengibarkan sang saka Merah Putih. Nelayan, pelaku usaha mikro, ibu rumah tangga, hingga pelajar berbaris rapi mengikuti upacara bendera yang dirangkaikan dengan agenda strategis peluncuran awal (soft launching) Kolaborasi Program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) pada Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Momentum bersejarah ini dihadiri langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono beserta jajaran Direktur Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kehadiran jajaran pimpinan kementerian menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam menjadikan kawasan pesisir sebagai sentra pertumbuhan ekonomi baru yang berdaya saing.
Tak hanya jajaran KKP, jajaran pemerintah daerah dan wakil rakyat turut hadir memberikan dukungan penuh. Gubernur Sulawesi Tenggara Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka dan Wakil Gubernur Ir. Hugua tampak membaur bersama warga pesisir. Kehadiran Anggota DPD RI Komisi IV Leni Andriani Surunuddin, Wakil Ketua III Komite II DPD RI Umar Bonte, serta Wakil Bupati Konawe Syamsul Ibrahim makin memperkuat sinergi lintas lembaga.
Tantangan utama yang kerap dihadapi nelayan tradisional adalah ketergantungan pada pembiayaan informal yang sering kali merugikan. Kehadiran Program Ekosistem Keuangan Inklusif dirancang untuk memutus mata rantai keterbatasan permodalan tersebut melalui penyediaan akses keuangan formal yang terstruktur dan berkelanjutan.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Tenggara, Bismi Maulana Nugraha, menjelaskan bahwa peresmian program EKI di Desa Sorue Jaya merupakan langkah konkret untuk memastikan keberlanjutan akses permodalan bagi masyarakat pesisir. Menurutnya, pembentukan ekosistem terpadu ini bukanlah proses mendadak, melainkan hasil dari pendampingan intensif.
Proses pembentukan pusat keuangan terpadu di kawasan pesisir ini merupakan kelanjutan dari program pendampingan inkubasi keuangan yang telah diinisiasi sejak awal tahun 2026. Pendekatan berkelanjutan menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya mendapatkan kucuran dana, tetapi juga memiliki ketahanan finansial.
Bismi mengungkapkan bahwa penguatan ekonomi masyarakat pesisir dilaksanakan melalui tiga tahapan terencana, yakni prainkubasi, inkubasi, hingga pascainkubasi. Ketiga tahapan ini dirancang untuk mengubah pola pikir dan tata kelola keuangan warga pesisir secara menyeluruh.
Untuk menjamin keberlanjutan dampak positif program dalam jangka panjang, OJK merencanakan pembangunan fisik financial center atau pusat keuangan terpadu tepat di jantung Kampung Nelayan Merah Putih Desa Sorue Jaya. Fasilitas ini nantinya akan menjadi hub seluruh aktivitas transaksi, edukasi, dan pembiayaan warga.
Memasuki tahap pascainkubasi saat ini, fokus kegiatan diarahkan pada pembekalan kapasitas pengelolaan keuangan masyarakat. OJK menggelar berbagai program edukasi serta bimbingan teknis mengenai manajemen keuangan yang sehat dan terencana.
Bimbingan teknis tersebut menjangkau seluruh segmen masyarakat pesisir secara inklusif. Nelayan, pemilik UMKM, ibu rumah tangga penggerak usaha keluarga, hingga para pelajar di wilayah KNMP mendapatkan materi literasi keuangan yang disesuaikan dengan kebutuhan harian mereka.
Selain mengasah pemahaman finansial, OJK memfasilitasi integrasi berbagai industri jasa keuangan untuk menyalurkan pembiayaan produktif secara tepat sasaran. Berbagai instrumen keuangan disediakan, mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), modal kerja kelompok perempuan, hingga tabungan khusus anak sekolah.
Sinergi yang terbangun sejak Januari hingga Juli 2026 telah membuahkan hasil nyata dalam bentuk capaian inklusi keuangan yang signifikan dari Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) dan lembaga mitra terkait.
Sektor perbankan nasional memegang peranan krusial dalam menyuplai likuiditas bagi nelayan dan UMKM di Desa Sorue Jaya. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk tampil sebagai salah satu pilar utama penyaluran kredit produktif bagi warga setempat.
Selama periode Januari hingga Juli 2026, BRI mencatatkan realisasi fasilitas kredit kepada 49 debitur di Desa Sorue Jaya dengan total plafon pembiayaan mencapai Rp1,527 miliar. Dana ini dimanfaatkan nelayan dan pelaku usaha untuk memperkuat armada tangkap serta modal kerja.
Kemudahan akses perbankan juga ditunjukkan dengan pembukaan rekening tabungan baru bagi 52 nasabah pesisir. Tak hanya itu, BRI memperluas jangkauan layanannya hingga ke pelosok desa melalui penyediaan satu unit Agen BRILink yang memudahkan transaksi keuangan warga sehari-hari.
Penguatan ekonomi dari lini keluarga mendapat dorongan kuat melalui skema pembiayaan khusus bagi perempuan. PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui program Mekaar hadir memberikan solusi permodalan bagi kelompok usaha perempuan pelaku UMKM.
Sebanyak 23 debitur perempuan berhasil mengakses pembiayaan PNM Mekaar dengan total plafon yang terealisasi mencapai Rp183,5 juta. Program ini terbukti efektif menggerakkan roda ekonomi rumah tangga dan memperkuat peran perempuan pesisir dalam menopang pendapatan keluarga.
Penanaman budaya literasi keuangan sejak dini juga menjadi perhatian utama dalam ekosistem terpadu ini. Program Simpanan Pelajar (SimPel) diperkenalkan kepada anak-anak nelayan untuk membangun kebiasaan menabung sejak usia sekolah.
Bank Sultra berpartisipasi aktif mendukung masa depan generasi muda pesisir dengan memfasilitasi pembukaan 30 rekening Simpanan Pelajar. Langkah ini menjadi fondasi penting bagi terciptanya generasi pesisir yang cerdas secara finansial.
Dukungan terhadap literasi keuangan anak-anak makin diperkuat oleh keterlibatan perbankan daerah lainnya. PT BPR Bahteramas Konawe turut berkontribusi nyata dengan membuka 44 rekening SimPel bagi siswa-siswi di sekitar kawasan KNMP Desa Sorue Jaya.
Modernisasi sektor perikanan tangkap tidak hanya membutuhkan modal tunai, tetapi juga dukungan teknologi tepat guna. Bank Indonesia (BI) mengambil peran strategis ini dengan menyalurkan bantuan teknologi navigasi dan deteksi ikan.
Sebanyak 10 unit alat pemantau ikan (fish finder) diserahkan Bank Indonesia kepada kelompok nelayan setempat. Alat ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional nelayan, menghemat bahan bakar, serta mendongkrak volume hasil tangkapan laut.
Ekosistem keuangan inklusif di Desa Sorue Jaya makin lengkap dengan adanya perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan. Sektor perikanan yang memiliki risiko kerja tinggi membutuhkan jaring pengaman sosial yang memadai bagi para pekerjanya.
BPJS Ketenagakerjaan hadir memberikan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi 22 nelayan rentan di tahap awal ini. Perlindungan ini memberikan rasa aman bagi para nelayan dan keluarga yang ditinggalkan saat menantang gelombang laut.
Bismi Maulana menegaskan bahwa model kolaborasi komprehensif ini tidak akan berhenti di Konawe saja. Ke depan, OJK dan KKP berkomitmen memperluas cakupan ekosistem keuangan inklusif ini agar dapat menjangkau seluruh kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di Sulawesi Tenggara.
Semangat kemerdekaan di KNMP Desa Sorue Jaya makin terasa hidup berkat paduan agenda peresmian dengan pesta rakyat yang meriah. Beragam kegiatan sosial dan hiburan digelar untuk memanjakan masyarakat pesisir yang hadir.
Pemerintah dan pihak penyelenggara menggelar bazar murah yang menyediakan paket kebutuhan pokok. Pembagian kupon sembako murah secara gratis menjadi bantuan langsung yang dirasakan manfaatnya oleh warga kurang mampu.
Gelak tawa dan semangat kebersamaan pecah saat warga mengikuti perlombaan tradisional khas HUT RI. Lomba tarik tambang, panjat pinang, balap karung, hingga lari kelereng diikuti dengan antusias oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Guna mendorong kemandirian dan keterampilan teknis warga, panitia menyelenggarakan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas (capacity building) secara gratis. Pelatihan ini dirancang sesuai dengan potensi dan kebutuhan ekonomi lokal.
Para nelayan muda mendapatkan Bimbingan Teknis servis mesin perahu secara cuma-cuma agar mampu melakukan perawatan mandiri. Sementara itu, kelompok wanita dan remaja dibekali keterampilan kreasi ecoprint serta teknik sablon untuk membuka peluang usaha kreatif baru.
Peringatan HUT RI ke-81 ini juga dimanfaatkan sebagai panggung promosi bagi produk-produk unggulan hasil olahan UMKM dan IKM lokal. Anjungan pameran dipenuhi beragam sajian kuliner khas hasil perikanan yang dikemas secara modern.
Para pengunjung dan tamu undangan disuguhkan beragam produk olahan laut yang menggugah selera. Mulai dari teri krispi yang renyah, sambal tuna asap beraroma khas, hingga bakso ikan olahan warga lokal dipamerkan secara menarik.
Inovasi olahan perikanan Desa Sorue Jaya makin terlihat dari hadirnya varian produk seperti semai ikan, bakso tahu ikan, serta keripik aplang ikan dan cumi. Kehadiran produk-produk ini membuktikan bahwa nilai tambah hasil laut Konawe mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Keseluruhan rangkaian perayaan diimbangi dengan edukasi pelindungan konsumen secara langsung di lapangan. Sebanyak 25 pelaku UMKM memamerkan karyanya berdampingan dengan stan layanan perbankan dan lembaga keuangan.
Kehadiran mobil layanan keliling dari OJK, Bank Sultra, BRI, BPR, BNI, BPJS Ketenagakerjaan, dan PNM menjadi bentuk nyata pendekatan layanan (jemput bola). Masyarakat pesisir dapat berkonsultasi, membuka rekening, maupun mengajukan pinjaman tanpa harus menempuh jarak jauh ke pusat kota.
Fasilitas jemput bola ini dimaksimalkan untuk memberikan edukasi langsung mengenai kewaspadaan terhadap penipuan finansial, investasi bodong, dan pinjaman online ilegal. Warga diajak untuk memahami hak-hak konsumen serta mengelola permodalan secara rasional.
Peluncuran Kolaborasi Program EKI di Kampung Nelayan Merah Putih Desa Sorue Jaya menjadi bukti nyata bahwa sinergi lintas sektor mampu menghidupkan ekonomi kawasan pesisir. Melalui paduan modal, teknologi, jaminan sosial, dan pendidikan, masyarakat pesisir Konawe kini menatap masa depan ekonomi yang lebih mandiri dan berdaya saing.