PARIS, PRANCIS – STIE Enam Enam Kendari membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan halangan untuk bersaing di panggung global. Dalam langkah strategis memperluas jaringan internasionalnya, delegasi kampus asal Sulawesi Tenggara ini resmi diterima dalam forum audiensi khusus di Balai Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paris, Prancis, yang terletak di kawasan prestisius 47–49 Rue Cortambert, 75116 Paris, pada Senin (11/5/2026).
Kunjungan yang merupakan bagian dari rombongan Delegasi LLDIKTI Wilayah IX ini disambut langsung oleh Atase Pendidikan KBRI Paris, Assoc. Prof. Dr.oec.HSG Syarifa Hanoum. Pertemuan ini menjadi momentum krusial bagi STIE Enam Enam Kendari untuk memetakan peluang emas di tengah ekosistem pendidikan tinggi Prancis yang dikenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
Membidik Raksasa Pendidikan Tinggi Eropa
Dalam pemaparannya, Atase Pendidikan KBRI Paris melemparkan data yang menjanjikan: Prancis saat ini memiliki lebih dari 3.500 institusi pendidikan tinggi. Angka tersebut mencakup 72 universitas, 271 sekolah doktoral, 227 sekolah teknik, serta 220 sekolah bisnis dan manajemen bereputasi internasional. Ditambah dengan melimpahnya skema beasiswa global, Prancis menawarkan ekosistem akademik yang sangat kondusif untuk mobilitas dosen dan mahasiswa.
Peluang inilah yang langsung direspons cepat oleh kepemimpinan STIE Enam Enam Kendari, yang dihadiri langsung oleh Ketua Yayasan Pembina Pendidikan Enam Enam Bumi Kendari, Ichsanuddin Akbar, S.T., M.M., dan Ketua STIE Enam Enam Kendari, Prof. Dr. H. Abdul Azis Muthalib, S.E., M.S.
Mengikis Tren “Kerja Sama di Atas Kertas”
Ketua STIE Enam Enam Kendari, Prof. Abdul Azis Muthalib, menegaskan bahwa diplomasi dengan KBRI Paris ini harus menjadi jembatan hidup (living bridge) yang menghubungkan langsung Kendari dengan daratan Eropa. Namun, ia memberikan catatan kritis bahwa kolaborasi ini tidak boleh terjebak pada seremonial belaka.
”Kerja sama internasional yang kuat tidak dimulai dari dokumen semata, tetapi dari kegiatan akademik yang berjalan secara berkelanjutan,” tegas Prof. Abdul Azis.
Ia menambahkan, alih-alih berfokus pada penandatanganan lembar Memorandum of Understanding (MoU) yang pasif, STIE Enam Enam Kendari membidik implementasi konkret yang berdampak langsung pada kualitas civitas akademika. Fokus utama yang akan dikejar meliputi program student & staff mobility, visiting professor, joint research, joint publication, magang internasional (international internship), virtual exchange, hingga program bergengsi seperti dual degree dan joint degree.
”Ketika kolaborasi sudah terlaksana melalui riset bersama, seminar internasional, kuliah tamu, atau pertukaran mahasiswa, maka kerja sama formal akan menjadi lebih kuat dan bermakna,” imbuhnya optimis.
Komitmen Yayasan Menuju Daya Saing Global
Senada dengan hal tersebut, Ketua Yayasan Pembina Pendidikan Enam Enam Bumi Kendari, Ichsanuddin Akbar, S.T., M.M., menyatakan bahwa internasionalisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan agenda strategis wajib untuk mendongkrak daya saing lulusan di era global.
“Pertemuan ini menjadi langkah awal yang sangat penting dalam membangun jejaring internasional yang lebih luas. Kami berharap dapat menghadirkan berbagai program kolaboratif dengan mitra perguruan tinggi di Eropa sehingga mahasiswa dan dosen STIE Enam Enam Kendari memperoleh pengalaman akademik bertaraf internasional,” ungkap Ichsanuddin.
Lewat pertemuan bersejarah di Paris ini, STIE Enam Enam Kendari memantapkan visinya: bertransformasi menjadi perguruan tinggi yang tidak hanya unggul dan adaptif di tingkat nasional, tetapi juga mampu menancapkan taji di level global melalui penguatan budaya riset, publikasi internasional, dan inovasi SDM yang berdaya saing tinggi.