Saatnya Rakyat Bicara

Membangun Generasi Emas Finansial: Sinergi OJK, Kemendikdasmen, dan Pramuka Gelorakan Literasi Keuangan di Jambore Nasional XII 2026

​JAKARTA – Di tengah terik matahari dan kibaran bendera tunas kelapa di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur, Jakarta, ribuan pramuka penggalang berkumpul tidak hanya untuk menguji ketangkasan alam terbuka, tetapi juga untuk merajut masa depan finansial bangsa. Suasana perkemahan akbar Jambore Nasional XII Tahun 2026 berubah menjadi panggung edukasi berskala besar saat isu pengelolaan keuangan diperkenalkan secara masif kepada para pembina dan peserta muda.
​Momentum bersejarah ini ditandai dengan hadirnya agenda Program Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) 2026 yang dirancang secara khusus untuk merespons tantangan zaman. Di era di mana arus digitalisasi dan budaya konsumtif bergerak cepat, pembekalan kecakapan mengelola uang sejak dini dipandang sebagai sebuah kebutuhan krusial yang tidak dapat ditawar lagi.
​Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil langkah proaktif dengan menggandeng lintas lembaga nasional guna meluncurkan inisiatif Pramuka Cerdas Keuangan. Program ini ditujukan untuk membangun fondasi berpikir kritis, membentuk kebiasaan finansial yang sehat, serta meletakkan dasar kesejahteraan jangka panjang bagi anak-anak Indonesia.
​Langkah strategis ini bukan sekadar sosialisasi biasa, melainkan sebuah gerakan kebudayaan finansial yang menyasar anak usia sekolah. OJK memandang bahwa ketahanan ekonomi nasional di masa mendatang sangat bergantung pada sejauh mana generasi muda hari ini mampu membuat keputusan keuangan secara bijak dan rasional.
​Puncak keseruan kegiatan edukasi ini terlihat dalam gelaran Talkshow Leaders Insight bertajuk “Pramuka Cakap Keuangan” yang diselenggarakan di Cibubur pada Selasa, 18 Agustus 2026. Acara tersebut mempertemukan para pemangku kebijakan tingkat tinggi dengan ribuan pramuka penggalang secara langsung maupun virtual.
​Hadir sebagai narasumber utama, Kepala Eksekutif Pengawas Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menekankan pentingnya pembentukan karakter keuangan sejak usia dini. Dalam pandangannya, kecakapan mengelola keuangan bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan hidup yang harus dilatih dan dibiasakan secara konsisten.
​Dicky menggarisbawahi bahwa kunci masa depan yang cerah berawal dari cara seseorang memperlakukan uang yang dimilikinya. Ia menyampaikan sebuah filosofi sederhana namun mendalam bahwa mengelola keuangan dengan bijak sesungguhnya merupakan jalan nyata menuju kebahagiaan hidup yang hakiki.
​Menurut Dicky, kebahagiaan finansial tidak diukur dari seberapa banyak uang yang dihabiskan, melainkan dari rasa aman dan kendali penuh atas keputusan finansial. Generasi muda diharapkan tidak mudah goyah oleh dorongan tren sesaat, tekanan kawan sebaya, maupun gaya hidup konsumtif yang marak di media sosial.
​Ia juga memaparkan langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan oleh para pramuka dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan sederhana seperti menabung secara disiplin, memisahkan antara kebutuhan primer dan keinginan impulsif, serta memilih produk jasa keuangan yang sesuai kapabilitas menjadi pilar utama edukasi tersebut.
​Sinergi OJK dalam forum Leaders Insight semakin kuat dengan kehadiran tokoh-tokoh penting dari legislatif, kementerian edukasi, dan pimpinan Gerakan Pramuka. Kehadiran lintas sektor ini menegaskan komitmen bersama dalam menjadikan literasi keuangan sebagai agenda prioritas nasional.
​Anggota Komisi XI DPR RI, Anis Byarwati, yang turut menjadi pembicara, memberikan pandangan komprehensif mengenai keterkaitan antara perilaku individu dan kesehatan ekonomi makro. Ia menjelaskan bahwa kebiasaan kecil seorang anak dalam mengelola uang sakunya akan berakumulasi menjadi kekuatan ekonomi bangsa di masa depan.
​Dalam paparannya, Anis menegaskan bahwa satu kebiasaan baik menabung yang dipupuk sejak usia muda merupakan investasi terbaik untuk membangun karakter finansial bangsa Indonesia. Pembiasaan tersebut akan melahirkan masyarakat yang tangguh dan tidak rentan terhadap krisis ekonomi.
​Anis mendorong adanya pergeseran paradigma dalam memandang aktivitas menabung di kalangan anak-anak dan remaja. Menabung tidak boleh lagi diartikan sekadar menyisihkan sisa uang belanja, melainkan harus diposisikan sebagai fondasi utama pembentukan mentalitas finansial yang disiplin dan bertanggung jawab.
​Perspektif tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan PDB, tetapi juga dari tingkat literasi masyarakatnya. Anak-anak yang paham cara mengelola aset sejak kecil akan tumbuh menjadi konsumen dan investor cerdas di masa depan.
​Dukungan konkret dari dunia pendidikan disampaikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen RI, Prof. Atip Latipulhayat. Ia mengungkapkan bahwa materi literasi keuangan telah terintegrasi secara harmonis ke dalam kerangka kurikulum pembentukan karakter siswa.
​Prof. Atip menjelaskan bahwa literasi keuangan menjadi salah satu pilar utama dalam Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Program ini bertujuan melahirkan generasi penerus yang cerdas secara akademis sekaligus matang secara emosional dan finansial.
​Lebih lanjut, Prof. Atip menekankan bahwa esensi literasi keuangan jauh melampaui kemampuan teknis berhitung atau mengkalkulasi nominal uang. Hal terpenting dari edukasi ini adalah melatih anak untuk memiliki kecakapan mengendalikan emosi dan menahan diri dari dorongan konsumtif yang berlebihan.
​Menurutnya, anak-anak yang terbiasa melatih kontrol diri dan regulasi emosi melalui 7 kebiasaan unggul akan memiliki penguasaan diri yang lebih baik saat dewasa. Kemampuan mengendalikan impuls diri inilah yang menjadi kunci utama keberhasilan mereka dalam mengelola keuangan pribadi di masa depan.
​Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Mayjen TNI (Purn.) Bachtiar Utomo, menyatakan rasa bangganya atas keterlibatan Pramuka dalam program LIKE IT 2026. Ia menilai bahwa edukasi keuangan sangat selaras dengan ruh dan kode kehormatan Gerakan Pramuka.
​Bachtiar merujuk pada Dasa Dharma Pramuka, khususnya poin ketujuh yang mewajibkan setiap anggota Pramuka untuk bersikap hemat, cermat, dan bersahaja. Nilai-nilai luhur ini dinilai sangat kontekstual untuk menjawab tantangan maraknya budaya konsumerisme di kalangan anak muda saat ini.
​Ia menambahkan bahwa prinsip bersahaja dan cermat dalam Dasa Dharma bukan berarti mengajarkan anak untuk bersikap pelit. Sebaliknya, prinsip ini mengajarkan pentingnya efisiensi, skala prioritas, dan rasa syukur atas setiap sumber daya yang dimiliki.
​Bachtiar berkeyakinan bahwa pembiasaan mengelola uang secara bijak sejak tingkatan Penggalang akan membentuk jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) yang kuat. Anggota Pramuka yang kreatif dan disiplin finansial akan lebih siap menciptakan lapangan kerja dan menjadi penggerak ekonomi kreatif di masa depan.
​Pelaksanaan Talkshow Leaders Insight diselenggarakan dalam format hybrid yang memadukan tatap muka langsung dan penyiaran daring. Sebanyak 3.500 anggota Pramuka Penggalang memadati lokasi acara dengan antusiasme yang sangat tinggi, sementara ribuan peserta lainnya mengikuti melalui saluran siaran langsung.
​Melalui interaksi dalam talkshow tersebut, para peserta mendapatkan wawasan baru mengenai pentingnya menyusun perencanaan keuangan masa depan. Mereka diajak untuk berdiskusi, mengajukan pertanyaan kritis, serta menyusun target-target keuangan pribadi dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
​Aliansi strategis antara OJK, Kemendikdasmen, dan Kwarnas Gerakan Pramuka ini dirancang sebagai kolaborasi jangka panjang. Ketiga lembaga sepakat untuk menjadikan Pramuka sebagai garda terdepan dalam menyebarkan virus literasi keuangan ke seluruh penjuru Nusantara.
​Melalui skema ini, para pramuka yang telah mendapatkan pembekalan diharapkan dapat berperan sebagai agen perubahan (agent of change) dan Duta Literasi Keuangan. Mereka bertugas menularkan pengetahuan dan kebiasaan positif tersebut kepada teman sebaya di sekolah maupun lingkungan tempat tinggal masing-masing.
​Visi besar ini beroperasi beriringan dengan pilar kepramukaan yang senantiasa menanamkan nilai kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial. Dengan bekal literasi keuangan, anggota Pramuka dipersiapkan menjadi pemimpin bangsa yang tangguh dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
​Edukasi keuangan di Buperta Cibubur ini tidak hanya berhenti pada sesi talkshow, melainkan dikemas dalam rangkaian kegiatan edukasi intensif. Penyelenggaraan edukasi berlangsung selama beberapa gelombang, yaitu pada tanggal 15–16 dan 18–20 Agustus 2026.
​Target sasaran utama dari rangkaian program edukasi ini adalah para pramuka tingkat Penggalang yang berada pada rentang usia 11 hingga 15 tahun. Usia ini dinilai sebagai masa emas (golden age) untuk membentuk kebiasaan dan pola pikir finansial yang permanen.
​Materi yang disampaikan dalam rangkaian edukasi ini dirancang secara berjenjang dan komprehensif. Selain pengenalan konsep dasar menabung dan perencanaan anggaran, peserta juga dibekali pemahaman mengenai ragam produk serta layanan jasa keuangan resmi yang aman.
​Para peserta juga diajak untuk mengenali struktur ekosistem keuangan nasional secara utuh. Mereka diperkenalkan dengan peran dan fungsi strategis lembaga-lembaga regulator, meliputi OJK, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
​Sinergi antarlembaga ini sejatinya telah memiliki akar yang kuat sejak beberapa tahun lalu. Kolaborasi konkret antara OJK dan Kwarnas Gerakan Pramuka telah terjalin erat sejak tahun 2023 melalui pembaruan kurikulum kepramukaan.
​Pembaruan tersebut diwujudkan melalui revisi Syarat Kecakapan Khusus (SKK) Penabung dan pembentukan SKK Cakap Keuangan. Tanda Kecakapan Khusus (TKK) ini menjadi insentif dan tolok ukur nyata bagi anggota Pramuka yang berhasil menguasai keterampilan mengelola keuangan.
​Salah satu daya tarik utama dalam Jambore Nasional XII Tahun 2026 adalah hadirnya wahana “Tenda Kampung Finansial”. Wahana ini mengusung konsep belajar sambil bermain yang disesuaikan dengan jiwa dan karakter anak-anak muda.
​Di area Tenda Kampung Finansial, peserta disuguhkan berbagai aktivitas edukatif yang interaktif dan menyenangkan. Berbagai agenda mulai dari talkshow interaktif, permainan simulasi keuangan, kuis berhadiah, hingga stan pameran interaktif disajikan oleh OJK, BI, Kemenkeu, LPS, dan pelaku industri jasa keuangan.
​Pendekatan edukasi berbasis pengalaman (experience-based learning) ini terbukti sangat efektif. Para peserta dapat mensimulasikan langsung bagaimana cara bertransaksi dengan aman, membedakan investasi legal dari yang ilegal, serta memahami cara kerja simpanan di bank secara menyenangkan.
​Tingkat partisipasi peserta terhadap wahana ini sangat mengagumkan. Hingga penutupan rangkaian acara, Tenda Kampung Finansial tercatat telah dikunjungi oleh lebih dari 7.500 anggota Pramuka dari berbagai penjuru daerah di Indonesia.
​Tak kalah menarik, rangkaian Jambore Nasional XII 2026 juga menghadirkan program eksklusif “Pramuka Goes to Office ke Kantor OJK” pada 18–20 Agustus 2026. Dalam agenda ini, perwakilan peserta terpilih berkesempatan mengunjungi langsung Kantor Pusat OJK di Jakarta untuk melihat secara dekat operasional pengawasan sektor keuangan.
​Secara keseluruhan, perhelatan Pramuka Cerdas Keuangan dalam Jamnas XII 2026 menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045. Melalui paduan nilai kepramukaan dan kecakapan finansial, generasi muda Indonesia kini siap melangkah mantap menyongsong masa depan yang sejahtera, mandiri, dan berdaya saing tinggi.

Exit mobile version